Rumah Adat Sulawesi Tenggara

Provinsi Sulawesi Tenggara makin populer dengan pesona wisata baharinya, khususnya di gugusan pulau-pulau yang dikenal dengan Wakatobi. Pesona keindahan alam bawah lautnya jadi daya tarik sendiri buat wisatawan yang bertandang kemari. Akan tetapi masih tetap ingatkah kalian dengan pulau penghasil aspal yang terdapat di provinsi ini? Ya, Pulau Buton. Pulau ini terdapat dibagian tenggara Pulau Sulawesi serta jadi salah satunya kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara. Disana, ada Kesultanan Buton yang meninggalkan beberapa jejak peradaban. Salah satunya jejak peninggalan itu contohnya bisa kita lihat pada rumah adat Sulawesi Tenggara yang terkenal menggunakan konsep rumah klasik pada pembangunannya.

Rumah Klasik Adat Sulawesi Tenggara

rumah klasik
Beribukota di Kendari, provinsi ini terbagi dalam 15 kabupaten serta 2 kota, yakni Kota Bau-Bau serta Kota Kendari.

sebagian besar suku di Sulawesi Tenggara ini ialah suku Buton. Diluar itu ada suku-suku yang lain yakni suku Muna, Tolaki, Morenene serta Wawonii. Suku buton dikenal juga dengan Suku Walio. Suku berikut mewariskan rumah klasik adat Banua Tada sebagai Rumah Adat Sulawesi Tenggara.

Rumah Adat Banua Tada

Rumah adat Banua Tana berupa rumah panggung dengan material pentingnya ialah kayu tiada memanfaatkan paku. Banua Tada terbagi dalam 2 kata, yakni Banua yang bermakna rumah serta Tada yang bermakna siku. Dengan harfiah, Banua Tada bermakna rumah siku.

Berdasar pada konsep rumah klasik, rumah adat Banua Tada terdiri dari 3 model, yakni Kamali atau malige, yang disebut rumah atau istana rumah raja berserta keluarganya; Banua tada tare pata pale, adalah rumah siku bertiang empat tenpat tinggal petinggi serta pegawai istana; serta Banua tada tare talu pale, adalah rumah siku bertiang tiga rumah orang biasa.

Menjadi peninggalan kesultanan Buton, rumah adat Kamali atau Malige berikut yang lebih diketahui menjadi Rumah Adat Sulawesi Tenggara. Di Malige sendiri ada simbol-simbol serta hiasan yang banyak di pengaruhi oleh ide serta ajaran tasawuf. Lambang serta hiasan itu melambangkan nilai-nilai budaya, kearifan lokal serta narasi dari peradaban kesultanan Buton di waktu yang lalu. opstinarogatica.com