Ary Ginanjar Agustian Pendidikan Karakter 7

Terhindarnya seseorang dari hawa nafsu pada Ramadhan dinilai Ary Ginanjar Agustian akan kian menguatkan dan bukan mengurangi aktivitas. Karena itu, Presiden Direktur PT Arga Bangun Bangsa dan pendiri ESQ Leadership Center ini mau menjadikan datangnya bulan suci Ramadhan sebagai momentum bagi menguatkan aktivitas.

Ary Ginanjar Agustian menganggap bahwa kewajiban untuk menahan diri dari lapar, haus, serta hawa nafsu semasa berpuasa, tidak boleh dijadikan sebagai sebuah alasan tuk setiap Muslim yang selagi menjalankannya untuk mengurangi pencaharian sehari-hari. Menurutnya, seseorang yang sedang menjalankan ibadah puasa, khususnya puasa Ramadhan, berposisi dalam kondisi yang amat prima.

“Kemudian, seseorang dimana sedang berpuasa juga tentang menurunkan atau bahkan menekan hawa nafsu yang ia miliki sehingga sudah semestinya seseorang tersebut bisa beraktivitas normal atau bahkan lebih dari aktivitas pada hari lumrah, ” tutur pria dimana lebih dikenal publik selaku seorang motivator ini kepada publik

Contoh konkret yang diambil dengan lelaki kelahiran Bandung,termasuk pada waktu pukul 12. 00. Pada waktu itu, kata dia, biasanya adalah pekerja akan meluangkan waktunya untuk mencari makan. Sekarang, pekerja tersebut tidak harus repot mencari makan siang karena sedang berpuasa.

Menurutnya, hal tersebut akan membuat aktivitas sehari-hari menjadi amat efektif dan seseorang mampu melanjutkan pekerjaannya setelah memenuhi ibadah shalat. Sayangnya, gede orang di Indonesia yang justru menjadikan Ramadhan seperti alasan untuk melarikan diri dari tanggung jawab, khususnya pekerjaannya.

Hal itulah dalam menjadi ketidaksetujuan suami dari Linda Damayanti itu lantaran masyarakat seakan sudah terbiasa dengan kebiasaan tersebut. Lagi-lagi, saat ia mengingat lebih kurang kejadian besar, yang justru terjadi pada bulan suci Ramadhan, yaitu Perang Badar dan Kemerdekaan Republik Dalam negeri. “Ramadhan bukan sebuah reason untuk mengurangi aktivitas, justru Ramadhan akan menguatkan kegiatan kita, ” ujarnya.

Lulusan Universitas Udayana Bali itu memaknai Ramadhan sebagai suatu rangkaian panjang yang tidak terpisahkan untuk pembangunan watak. Makna dari bulan suci Ramadhan tersebut, menurut Ary Ginanjar Agustian, juga sesuai dengan yang diperintahkan oleh Rasulullah, yaitu membangun akhlak, sehingga apa yang didapatkan dari seseorang setelah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan nanti merupakan karakter diri yang fitri.

Maka itu, pria dalam juga sempat menimba ilmu di Tafe College Quarterly report tersebut menegaskan kalau bulan suci Ramadhan tidak sebatas tentang ritual berpuasa maupun menahan lapar, haus, kemudian hawa nafsu, tetapi jua sebagai momentum untuk membentuk dan membangun karakter data yang indah dan fitri. Pria yang sudah mulai berpuasa sejak di bangku sekolah dasar itu jua menyayangkan jika seseorang cuma memaknai Ramadhan sebagai habit.

Pengalaman menjalani bulan suci Ramadhan di Makkah, belasan tahun yang lalu, memerankan Ramadhan yang paling seolah-olah bagi pria yang akan mengajar mata kuliah strategi pendidikan karakter di Universitas Negeri Yogyakarta tersebut. Saking berkesannya, selama 10 setahun belakangan, ia selalu berupaya meluangkan tenaga dan durasi untuk menjalankan ibadah puasa pada awal Ramadhan in Makkah.

Mendekatkan diri pada Allah SWT, mendirikan shalat Tarawih, menjalankan puasa, beserta berusaha menyucikan hati bener di depan Ka’bah, jadi momen yang paling seolah-olah bagi perancang konsep Often the ESQWAY 165 tersebut. Bermacam alasan yang membuatnya sering ingin kembali ke Tanah Suci tersebut, ditambah lagi karena ia bisa bertambah fokus dalam beribadah lantaran merasa lebih dekat dengan Allah SWT.

Meski sangat, penyuka timun suri ini menyebut kalau Ramadhan setahun ini memang menjadi tantangan yang berat, baik secara ekonomi maupun sosial. Sesuatu itu disebabkan kondisi rakyat yang sedang dirundung melimpah masalah, di antaranya, persoalan narkoba dan buruknya moralista atau karakter dari semua individu. Maka itu, Ary berharap agar nilai-nilai dimana ada dalam diri orang mampu menghadapi permasalahan tersebut.

Ary juga memanfaatkan bulan suci Ramadhan sebagai energy spesial bersama keluarga dalam melaksanakan shalat Tarawih. Ia selalu berusaha meluangkan waktu untuk melaksanakan shalat Tarawih berjamaah di rumah berbareng anak dan istrinya. Momen istimewa lainnya bersama keluarga yang ia rasakan masa bulan suci Ramadhan ialah menikmati santap sahur bersama-sama yang dianggapnya sebagai harapan terbaik selama sepanjang 1 thaun.

Peraih penghargaan Tokoh Perubahan Republika 2005 tersebut jua mengimbau umat Islam tuk tidak menyia-nyiakan Ramadhan, kecuali untuk menghasilkan karakter data yang lebih baik sebagai manusia. Baginya, Ramadhan adalah harapan latihan yang diberikan oleh Tuhan yang wajib dimanfaatkan sebaik mungkin karena tidak sedia jaminan kalau seseorang ini bisa bertemu dengan Ramadhan pada waktu yang tentang datang.